Selamat datang kembali, di blog dewiarmitha.
Karena sedang kosong-kosongnya, maka biarkan saya mengisi waktu dengan sesuatu yang bermanfaat.

Baik, saya akan berbagi cerita mengenai kehidupan selama 4 tahun bernaung di Fisika UNM.
Jadi, langsung saja biar tidak lama-lama. Silahkan dibaca!



Jalur Masuk
Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, saya direstui masuk Pendidikan Fisika Universitas Negeri Makassar melalui jalur SNMPTN atau bebas tes. Saya sudah menduga, memang saya akan lolos. Astgafirullah, maafkan kesombongan ini. Tapi, kesombonganku didasari atas usaha keras yang telah saya lakukan selama di bangku SMA. Jadi, wajar saja kalau saya menduga akan lolos. Untung dugaan ini tidak membuat kecewa.  



Tahun pertama (Semester 1 dan Semester 2)
Sebagai mahasiswa baru, semester 1 adalah masa-masa sulit. Karena sedang berada dimasa peralihan antara SMA ke Kuliah. Berbagai hal datang melanda, mulai dari merindukan kampung dan keluarga, mencari teman yang cocok, menghadapi pelajaran-pelajaran baru, dan hal-hal lainnya. Kala itu, saya adalah tipe mahasiswa yang sangat fokus ke akademik. Sekali lagi, fokus ke akademik. Sehingga tidak memiliki pikiran sama sekali untuk beroganisasi dan kegiatan kampus diluar akademik. Setiap harinya, kegiatannya ya masuk kelas, kerja tugas, pulang kos, kerja tugas, besoknya, masuk kelas, kerja tugas, dan sampai begitu hingga semester 2 masuk.

setelah praktikum biologi dasar dan fisika dasar menyerang

Beberapa mata kuliah di semester 1 belum mencapai tingkat kesulitan yang begitu parah. Karena masih sekitaran seperti pelajaran SMA, yaitu biologi dasar, kimia dasar, fisika dasar, pancasila, bahasa inggris, agama islam, pengetahuan lingkungan, dan teman-temannya. Namun,  satu yang pasti adalah saya sangat tertekan dengan adanya praktikum. Praktikum merupakan pelajaran diluar jam kuliah. Jadi, setiap minggunya harus melakukan respon atau seperti tanya jawab dengan asisten sebelum masuk lab, kemudian melakukan praktikum di lab, kerja laporan, kalau salah dipantul , kerja ulang lagi, begitu seterusnya sampai bertemu pada kata Acc. Yang luar biasanya adalah praktikumnya tidak hanya satu saja. Ada dua. Fisika dasar dan biologi dasar. Karena begitu beratnya, semester ini berhasil membuat saya kehilangan berat badan sebesar 8 kg. Saran saja, kalau mau kurus bisalah masuk fisika. Tidak beda dengan semester 1, pada semester 2 juga berat. Setelah biologi dasar menghilang, datanglah kimia dasar. Jadi, satu semester tetap mendapat 2 praktikum.

Disamping itu, semester 2 adalah masanya untuk berINAUGURASI. Inaugurasi adalah momen pengukuhan mahasiswa baru fisika. Jadi, beberapa bulan, kami melakukan latihan serta penggalangan dana. Alurnya, setiap pulang kuliah atau ada kelas kosong, kami akan melakukan penggalangan dana. Malamnya, kami akan latihan. Saat itu, saya mengambil bagian di Paduan Suara atau Pr15ma Choir. Berkat usaha dan doa, inaugurasi fisika angkatan 15 berjalan dengan lancar dan membahagiakan.




Kalian juga bisa menyaksikan penampilan-penampilan inaugurasi fisika angkatan 15  DISINI.

Tahun kedua ( semester 3 dan 4)

Setelah menempuh 1 tahun di fisika, akhirnya ketakutan setiap akan masuk praktikum sudah hilang sedikit demi sedikit. Di tahun ini pula, mata kuliahnya sudah mulai mengurucut ke fisika dan pendidikan. Tidak ada lagi yang dasar-dasar, semuanya sudah diluar dugaan. Seperti Komputerisasi Pembelajaran Fisika, Analisa Numerik, Termodinamika, Elektronika Dasar, Strategi Pembelajaran, Statistika, Media Pembelajaran Fisika, Kalor dan Perpindahannya, dan beberapa kawan-kawannya. Yang paling berkesan bagi saya adalah Komputerisasi dan Media Pembelajaran Fisika. Komputerisasi berhasil membuat kami satu angkatan jadi penulis buku serta menjadi pembuat web pembelajaran. 



Kalau media pembelajaran, lain lagi ceritanya.Pertemuan awal saja, kami sudah jantungan. Ketika saat itu diminta untuk membuat alat peraga pembelajaran beserta dengan LKPDnya. Dengan berbagai drama yang menguras tenaga, waktu, pikiran, emosi, dan juga uang. Bahkan saat itu, saya pernah dipanggil ke ruang dosen pengampuhnya dan saya diminta mendrop mata kuliah ini. Siapa yang tidak menangis keluar dari ruangan? Hahahah. Tapi, satu saja yang perlu diingat. Jangan menyerah. Seadainya saat itu, saya menyerah, mungkin tahun depannya saya harus mengulang mata kuliah itu lagi.

Drama media pembelajaran fisika, tidak sampai disitu. Kami juga diminta untuk membuat film secara berkelompok. Perlu saya sampaikan, membuat film benar-benar perjuangan. Harus shooting selama 10 hari lebih diwaktu-waktu tidak ada kelas, shooting yang sampai malam bahkan nginap, lokasi shooting yang jauh dan belum lagi ada tugas kuliah yang harus dikumpul segera. Tapi, seru! Dan semuanya terbayarkan dengan nilai A yang kami peroleh.

Shooting di pasar
Scene bunuh diri :P










Film Pembelajaran: Fisika, Kail, dan Jala cukup menghidupimu

Selain aktivitas kampus, di semester 4, saya akhirnya memutuskan mencari pengalaman dengan mengajar di salah satu bimbingan belajar untuk persiapan SBMPTN. Serta mengikuti biro seni yang ada di jurusan fisika. Yap, INTENS HIMAFI FMIPA UNM. Disini saya menemukan orang-orang yang luar biasa dan menyenangkan. 



Tahun ketiga (semester 5 dan semester 6)
Kala itu, karena masih menjadi bagian dari pengurus INTENS. Saat masa-masa libur semester, Himpunan melaksanakan program kerjanya berupa bakti sosial di salah satu desa yang ada di Kabupaten Bone, saya turut serta. Baksos ini dinamakan ASM (Aplikasi Studi Mahasiswa) dan berjalan selama 1 minggu. Sebagian besar panitianya adalah teman kelas saya sendiri, jadi semuanya berjalan dengan menyenangkan. Sebut saja, baksos ini adalah latihan menuju KKN. Ceritanya bisa dibaca DISINI.









Tahun ini pula, saya mengikuti seleksi menjadi asisten fisika dasar 1. Setelah melewati seleksi berkas, tes wawancara, tes tulis dan workshop. Akhirnya, kehidupan saya selama satu semester ada di lab. Mulai dari memberikan bimbingan kepada praktikan saat praktikum, melakukan respon diwaktu kosong, dan memeriksa laporan praktikan. Semuanya benar-benar perjuangan dan harus saya akui itu semua melelahkan. Tapi, itu semua memberikan banyak pelajaran dari bagian-bagian perkuliahan saya.






Diwaktu yang sama, selama kurang lebih 3 bulan saat semester 5. Waktu dan tenaga harus digunakan untuk mempersiapkan Pentas Seni INTENS (PSI). Karena ini adalah proker terbesarnya, maka persiapan benar-benar harus matang. Sekali lagi mulai dari penggalangan dana dan latihan di malam hari bahkan kadang sampai dini hari. Semuanya terasa manis, ketika PSI yang kami tampilan mendapatkan respon yang baik oleh penonton.

 



Pada semester 5 hingga 6, beberapa mata kuliah sudah mencapai kesulitan yang hakiki. Karena sudah menjurus ke dunia fisikanya dan pendidikannya. Mulai dari alat-alat ukur, instrumen nontes, eksperimen fisika, mekanika fluida, metode penelitian, telaah kurikulum (yang berhasil membuat kami juga jadi penulis), fisika inti, fisika kuantum, praktek sekolah menengah, microteaching, dan penelitian tindakan kelas.

Mata kuliah Microteaching juga berhasil membuat kami berjuang sekuat tenaga dengan adanya shooting sepanjang hari untuk membuat video mengajar. Terus juga peneilitian tindakan kelas yang harus turun lapangan ke sekolah untuk mencari masalah dari pembelajaran yang dilakukan di kelas terus membuat proposalnya.


Teman kelas microteaching

Proses pengambilan video microteaching
Proses penelitian tindakan kelas
Tapi, yang paling menyenangkan adalah fisika inti. Meskipun dikelas, pelajarannya lumayan susah. Adanya study tour selama 1 minggu ke Jawa, membuat kami merasa sangat berbahagia. Cerita study tour bisa di baca DISINI.


Pada tahun ini pula, sebuah komunitas literasi berdiri. Kami namakan Kawanaksara. Beberapa waktu, kami setiap minggu melakukan pertemuan untuk membahas mengenai buku, film, dan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Dan pada awal tahun 2019, kami berhasil mengadakan event besar di kecamatan Tiroang yaitu KAWANAKSARA Goes To School.










Setelah berulangkali mengirimkan proposal PKM sejak dari Maba. Barulah pada tahun ini, saat bersama tim mata pengajar, kami mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan proposal kami di Monitoring dan Evaluasi PKM (MONEV).





Di semester 6 ini pula, perjuangan ke titik SKRIPSI dimulai. Saya mulai mengajukan judul skripsi, dengan beberapa kali harus direvisi. Baru judul sudah direvisi berulang kali. Hingga akhirnya menemui titik terang.

Tahun keempat (Semester 7 dan semester 8)

Titik terang itu adalah melaksanakan seminar proposal. Target untuk seminar sebelum pergi KKN, tercapai. Satu minggu berikutnya, kami berangkat KKN. Di sebuah desa nan jauh di mata. Di sebuah desa  diluar pulau sulawesi selatan. Selama 3 bulan hidup dan berkembang di tempat KKN, semuanya berjalan dengan menyenangkan dan baik-baik saja. Nanti cerita mengenai KKN akan ditulis di lain waktu.


Hingga semester 8 datang, setelah berbulan-bulan berlalunya seminar proposal. Saya belum juga penelitian. Sebelum dari itu semua, perjuangan saya harus bermula dari perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian. Dan itu tidak mudah ferguso. Hampir 2 bulan, saya mengerjakan intrumen dan perangkat dengan segala dramanya baru akhirnya bisa turun ke tempat penelitian. Ya, singkat cerita, saya meneliti di sekolah saya sendiri SMA Negeri 6 Pinrang selama sebulan. Karena masih ada satu mata kuliah wajib yang harus diselesaikan di Makassar, jadilah setiap minggu saya harus pulang balik Makassar-Pinrang.


Perjuangan setelah penelitian, kemudian berlanjut dengan mengerjakan hasil, mengkonsultasikan, merevisi, menunggu dan semua cobaan-cobaan yang menghadang. Hingga pada tanggal 27 Juli 2019, saya melaksanakan seminar hasil. Sedikit lagi Proposal saya Anniversary 1 tahun baru diseminar hasilkan. Selesai seminar hasil, titik menuju selesai mulai terlihat. Selang 1 bulan dari waktu seminar hasil, akhirnya Ujian Tutup didepan mata. Tepatnya, 2 Agustus 2019, saya melaksanakan Ujian tutup dengan lancar. Hingga pukul 15.30 WITA, dengan sedikit drama pada saat yudisium, akhirnya gelar S.Pd (Sarjana Pendidikan) bisa dipakai dibelakang nama saya. Yes, Dewi Armitha Basri, S.Pd.



 Tidak cukup sampai disitu, walaupun gelar sudah disandang. Tanpa wisuda, semuanya belum berakhir. Drama kehabisan kuota wisuda juga mewarnai perjuangan perkuliahan ini. Dengan berjuang, bersama 7 orang teman lainnya dalam kelas, saya berhasil mengenakan toga pada hari Rabu, 11 September 2019.


Malam Ramah Tamah





Saya mau bilang, jangan berhenti berusaha. Jangan mudah menyerah. Dan jangan pernah bosan menunggu. Jangan bermalas-malasan. Jangan lupa berdoa. Karena usaha mati-matian tidak ada gunanya tanpa doa. Jadi, usaha dan doa harus jalan beriringan. Dan tidak kalah pentingnya, bersabar. Ujian apapun yang datang menghampiri, tetap percaya akan ada solusinya. Semua akan diberi, tapi sabar menunggu waktu yang menurut Tuhan tepat. Kamu bisa saja menginginkan, tapi Tuhan akan memberikan kapan menurutnya tepat dan terbaik.
Sekian.

DAB